Minggu, 07 Maret 2010
Empat Pejabat SPI Bulog Diperiksa, Dua Oknum Anggota DPRD Malra dan Kota Tual Tunggu Icin Gubernur
Tual, VP – Kasus dugaan korupsi penyelewengan beras Bulog yang melibatkan tersangka, Ridwan T, Mantan Kepala Gudang Dolog Tual yang saat ini disidik Kejaksaan Negeri Tual bakal menyeret dua oknum anggota DPRD kabupaten Malra dan Kota Tual.
Sumber resmi Koran ini di Kantor Kejaksaan Negeri Tual, Rabu ( 3/3 ) menyebutkan dua oknum wakil rakyat itu sesuai hasil pengembangan penyidikan, diduga terlibat dalam kasus tersebut. “ salah satu oknum anggota DPRD Malra berinsial A dan oknum anggota DPRD Kota Tual, berinsial S, bakal kita periksa, setelah turunya surat icin dari Gubernur Maluku “ ungkap sumber itu.
Dikatakan, selain itu masih ada satu oknum anggota DPRD Kota Tual lainya yang bakal diseret. Kata sumber di Kejaksaan tersebut, kedua oknum wakil rakyat itu terlibat dalam pinjam – meminjan beras bulog untuk kepentingan pribadi.
Sementara itu sesuai pantauan Koran ini di Kantor Kejaksaan Negeri Tual, sedikitnya empat pejabat Bulog pusat dari satuan pengawas internal ( SPI ) telah dimintai keterangan sebagai saksi ahli dalam kasus tindak pidana korupsi penyelewengan beras Bulog. Tiga pejabat SPI yang telah dimintai keterangan masing –masing, Didik Suardi, Muhamad Alexander, dan puji sulistyo Maebari. Sedangkan dedikitnya sembilan saksi lainya telah memberikan keterangan.
Seperti diberitakan Koran ini sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri Tual, Nurizal Nurdin, SH mengakatakan, modus operandi yang dilakukan tersangka dugaan korupsi penyelewengan beras Bulog Tual, Ridwan T yang merugikan keuangan negara 3,4 milliar adalah beras bulog sebanyak 6.300 ton itu dikeluarkan dari gudang Dolog Tual tanpa daftar order ( DO ) dari Bulog dan dilaksanakan pada hari libur. “ modusnya, tersangka keluarkan beras tanpa DO Kepala Bulog Tual, dilakukan pada hari libur, dengan cara karung beras bulog digantikan dengan karung kuning biasa “ ungkap Kejari dalam konferensi Pers, kamis kemari ( 24/2 ).
Kejari mengaku, berdasarkan keterangan sepuluh orang saksi, baik pegawai Bulog, dan penerima beras yang tidak disebutkan identitasnya, kalau beras bulog yang didalamnya ada beras raskin, bantuan pemerintah untuk masyarakat miskin di Malra, Kota Tual, aru, dan MTB, merupakan beras bulog jatah masyarakat pada bulan pebruari – juni 2009. “ kita belum temukan, beras bulog itu digunakan untuk suksesi pemilu legislatif 2009 lalu “ ujarnya.
Kejari menyatakan, penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap para pegawai dan Kepala Bulog Tual serta beberapah komponen masyarakat yang menerima beras bulog tersebut. “ kita sementara menunggu keterangan saksi ahli dari SPI bulog “ kata Nurizal Nurdin
Sebelumnya mantan Kepala Gudang Bulog Tual, Ridwan T akhirnya dijebloskan ke Hotel Prodeo alias Lembaga Pemasyarakatan ( LP ) Tual sejak kamis kemarin ( 18/2 ) jam 16.00 wit.
Kasipidsus Kejari Tual, Renaldy Paliama, SH kepada Vox Populi, senin ( 22/2 ) membenarkan penahanan tersangka kasus dugaan korupsi penyimpangan beras bulog tersebut. “ secara resmi tersangka, Ridwan T, Mantan Kepala Gudang Dolog Tual kami tahan di Rutan Tual, sejak kamis kemarin, terkait kasus dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara berkisar tiga milliar lebih “ ungkapnya.
Kasipidsus mengaku, tersangka ditahan karena diduga melakukan perbuatan tindak pidana korupsi menyelewengkan beras raskin, beras bantuan pemerintah kepada masyarakat miskin berjumlah 634.000 ton raskin. “ ratusan ton beras raskin itu dikeluarkan tersangka dari gudang dolog tanpa daftar order ( DO ) dari Kepala Bulog Tual, sehingga sampai saat ini tidak dapat dipertanggungjawabkan “ tandas Renaldy.
Kata dia, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sembilan saksi yang adalah para pegawai dan pejabat Bulog Tual dalam kasus tersebut, dan dipastikan mulai rabu (24/2), penyidik kejaksaan akan memeriksa oknum – oknum masyarakat yang menerima beras raskin itu dari tersangka. Ketika ditanya, oknum siapa yang bakal diperiksa, Kasipidsus Kejari Tual itu belum mau membeberkan hal itu.
Sementara itu berdasarkan sumber Koran ini di Kejaksaan Tual menyebutkan, kasus tersebut diduga melibatkan berbagai komponen masyarakat yang di kabupaten malra dan kota Tual, mulai dari politisi, pengusaha, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemuda. ( nery rahabav. koran vox populi)
Pastor Paroki Rumat Jadi Wakil Uskup Kei Kecil

Pemkot Tual Gelar Kegiatan Pembinaan dan Bimbingan Bagi Generasi Muda Tiga Golongan Agama
Tual, VP – Pemerintah Kota Tual, dibawah Kepemimpinan Waliko Tual, Drs Hi. M.M Tamher dan Wakil Walikota Tual, Adam Rahayaan, S.Ag sangat concer terhadap pembinaan dan bimbingan bagi para generasi muda di Kota Tual, buktinya, pada kamis kemarin ( 4/3 ), sedikitnya 750 kaum generasi muda dari tiga golongan agama, Islam, Katolik dan Protestan mengikuti kegiatan tersebut yang dibuka Wakil Walikota Tual, Adam Rahayaan, S.Ag.
Dalam sambutanya, Wawali Tual mengatakan, Isue sentral generasi muda sebagai pewaris dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, sesungguhnya merupakan sebuah amanat agung yang tidak dapat ditawar dan disangkal baik oleh siapapun, dan dengan alasan apapun. “ saya boleh mengatakan bahwa : mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, generasi muda harus siap mengemban amanat itu sebagai penerus dan pewaris cita-cita perjuangan, membangun dan mewujudkan tujuan pembangunan nasional yakni mewujudkan masyarakat Indonesia yang Makmur, Damai dan Sejahtera “ tegasnya
Kata Rahayaan, berangkat dari pernyataan tersebut diatas, maka munculah sebuah pertanyaan : “Sanggupkah generasi muda kita menerima dan mengemban amanat tersebut ?, atau dengan pertanyaan lain : kategori generasi yang manakah yang sanggup dan siap menerima dan mengemban amanat agung itu ? Jawabannya kata Wakil Walikota Tual itu yakni, gerenasi muda pewaris dan penerus cita-cita perjuangan dan pembangunan adalah generasi muda yang berkwalitas, bermoral dan bermartabat, berbudi pekerti, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban serta memiliki semangat religius yang tinggi.
“ saya menyambut baik pelaksanaan pembinaan gerenasi muda yang dilaksanakan hari ini dengan sorotan tema : Pembinaan Generasi Muda, Mewujudkan Kualitas Sumber Daya Manusia Yang Bermoral dan Bermartabat Menuju Masyarakat Yang Aman, Maju dan Sejahtera”. Sebuah untaian kalimat yang memiliki makna strategis, yang tentunya bukan sekedar sebagai slogan belaka, tetapi harus diwujudkan melalui berbagai upaya, teristimewa melalui pembinaan lembaga-lembaga pendidikan formal maupun lembaga-lembaga dan forum pembinaan lainnya, “ tandasnya.
Bertolak dari tema pembinaan yang disebutkan diatas, kata Wawali sesunguhnya ada tiga komponen utama sebagai pilar penentu keberhasilan yang perlu diperhatikan dan diberdayakan yakni komponen sumber daya alam, sumber daya manusia dan teknologi. “ Ketiga komponen itu sangat menentukan proses akselerasi pembangunan, mewujudkan apa yang sesungguhnya menjadi dambaan kita bersama yakni : menciptakan masyarakat yang aman, maju dan sejahtera “ ujarnya.
Dikatakan, ketiga komponen pilar dimaksud sesungguhnya memiliki hubungan kausal atau sebab akibat yang tidak dapat dilepas pisahkan, artinya : apalah artinya, kalau ada sumber daya alam namun tidak ada sumber daya manusia berkwalitas yang sanggup menata dan mengelolanya dengan modal pengetahuan teknologi yang memadai.
“ Oleh sebab itu, pembinaan dan bimbingan generasi muda dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkwalitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki nilai-nilai moral dan etika, menghargai dan menghormati pluralitas masyarakat serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, niscaya pembangunan menuju masyarakat sejahtera dan berbudaya akan terwujud dibawa kendali generasi muda. Kesemuanya ini bisa dapat kita wujudkan manakala lembaga-lembaga pendidikan dan pembinaan gernerasi muda dapat berfungsi dan berperan secara baik dan optimal.” sorotnya
Mantan Anggota DPRD Malra itu mengatakan, memasuki abad ke-21, isue tentang perbaikan sektor pendidikan di Indonesia mencuat kepermukaan, tidak hanya pada tataran Departemen Pendidikan Nasional, tetapi pada semua jalur dan jenjang pendidikan yang dikelola oleh beberapa departemen teknis. Kata dia, tuntutan keseimbangan sosial (social equity) sangat penting, dan tidak hanya disuarakan oleh departemen terkait sebagai otoritas pengelola jalur pendidikan tersebut, tetapi juga para praktisi dan pengambil kebijakan dalam pembinan sumber daya manusia, karena semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan akan mempengaruhi indeks keberhasilan pendidikan secara keseluruhan.
“ Oleh karena itu semua jalur pendidikan dan pembinaan yang dikembangkan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya agar kualitas administrasi benar-benar dapat ditingkatkan, dalam menjawab tantangan globalisasi dan mewujudkan masyarakat yang berperadaban, tinggi ilmu pengetahuan, tinggi iman dan tinggi budi pekerti, serta tinggi tanggung jawab dan pengabdian.” harapnya
Wawali juga sangat mengharapkan agar forum pembinaan dan bimbingan seperti ini kiranya terus ditumbuh kembangkan, bukan saja oleh pemerintah daerah, tetapi melalui pembinaan dan pendidikan keagamaan serta lembaga-lembaga pendidikan lainnya baik secara formal maupun non formal.
Selain itu dirinya mengajak, para pimpina umat yang ada, agar marilah sama-bersama bergandengan tangan, membangun masyarakat, menciptakan suasana yang aman dan damai. “ mari kita ciptakan dan bangun terus Tri Kerukunan kita yakni : kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, serta kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Karena hanya dengan itulah persatuan dan kesatuan akan kita tumbuh kembangkan terus dan pembangunan akan dipacu bersama mencapai apa yang menjadi harapan dan dambaanmasyarakat, yakni mewujudkan Kota Tual sebagai Kota Maha Sutra, atau Kota yang aman, sehat berdaya saing dan sejahtera “ pintahnya.
Sementara itu, Ketua Penitia pelaksana kegiatan yang juga Kepala Badan Kesra Pemkot Tual, Drs J. Matdoan dalam laporanya mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama satu hari, dengan jumlah peserta sebanyak 750 orang yang merupakan perwakilan generasi muda dari ketiga golongan agama, masing masing berasal dari seluruh SLTA dan SMP/MTS yang ada di Kota Tual.
Sedangkan narasumber yang akan memberikan materi pembinaan dan bimbingan berjumlah 10 orang, berasal dari unsur pemerintah daerah, unsur agama ketiga golongan, pendidkan dan tokoh masyarakat.
Madoan menegaskan maksud pelaksanaan kegiatan tersebut, adalah membimbing dan mengarahkan generasi muda yang ada untuk mengerti dan memahami keberadaan dan jati dirinya sebagai pewaris dan penerus cita – cita perjuangan danpembangunan bangsa demi mewujudkan masyarakat kota tual yan aman, damai, dan sejahtera. “ sedangkan tujuan pelaksanaan kegiatan yakni, diharapkan, para generasi muda di kota tual, memiliki jiwa kepeloporan serta kualitas sumber daya manusia yang handal yang bertumpuh pada nilai – nilai moral dan peradaban serta etika dan semangat religius yang tinggi “ lapor Matdoan. ( oce leisubun. Koran vox populi)
Ribuan Umat Katolik Kei Kecil Rayakan 40 Hari Wafatnya Almarhum Opa Uskup Tethool

Terjadi Pro – Kontra Penjualan Tanah di Pantai Wisata Nam Kepada Investor
Tual, VP – sedikitnya dua hectare tanah di pantai wisata Nam Indah, Kota Tual telah dijual kepada salah satu investor yang bergerak dibidang perikanan. Atas penjulana tanah tersebut, maka saat ini terjadi pro – kontra ditengah masyarakat antara kelompok Alex cs dan Raja Ohoitahit.
Perseteruan kedua kelompok itu akhirnya difasilitasi Pemkot Tual, untuk mencari solusi penyelesaian. Wakil Walikota Tual, Adam Rahayaan, S.Ag ketika dikonfirmasi Vox Populi di ruang kerjanya, rabu (( 3/3 ), membenarkan pertemuan fasilitasi yang dilakukan Pemkot Tual, untuk mencari solusi penyelesaian atas masalah tersebut. “ pokok masalah, terkait dengan Nam Indah, kebetulan ada investor mau masuk, jadi investor sudah berhubungan denga Raja Ohoitahit untuk beli dua hektar tanah disitu, untuk investasi dibidang perikanan, namun petuanan yang mau dilepaskan tersebut terjadi dua kelompok yakni kelompkok Alexs cs, da Raja Ohoitahit “ ungkapnya.
Wawali mengaku, sejak awal Raja Ohoitahit sudah mengakomodir kelompok Alex cs dalam surat penyerahan tanah sebagai saksi, namun Alex cs dkk tidak bersedia sebagai saksi, sebab mereka mengklaim harusnya mereka diletakan dalam surat penyerahan sebagai pihak yang turut menyerahkan sebagai ahli waris, bukan sebagai saksi. “ buntut masalah ini jadi panjang sampai saat ini, sebab sejak awal Raja Ohoitahit sudah masukan kelompok Alex cs sebagai saksi, namun mereka menolak, karena petuanan tanah itu, mereka sebagai pihak yang berhak . kami fasilitasi sebatas melihat kedua kelompok itu adalah masyarakat kita, kita tidak ingin ujung – ujungnya melahirkan pertumpahan darah, diluar yang dibayangkan “ jelas Adam Rahayaan.
Menurut Wakil Walikota Tual, pihaknya sebatas memediasi, namun disatu sisi,Raja Ohoitahit berpegang pada keputusan Mahkam Agung masalah RI , sementara oleh kelompok Alex cs, putusan MA itu hanya terkait dengan Difur bukan Nam Indah. “ saya minta kesadaran kedua kelompok menunggu kehadiran bapak Walikota Tual, bagaimana bentuk penyelesaian tersebut. Tadinya karena Alex cs tidak puas, lalu tanam sasi ( hawear-red ) di areal tanah itu, kemudian bapak Raja Ohoitahit bersama kelompknya pergi cabut sasi, jadi semakin timbul ketersinggungan dari rentetan awal tadi “ ujarnya.
Dijelaskan, pihaknya sengaj mensiasati pertemuan itu dilakukan secara terpisah antar dua kelompok masyarakat. “ kami sudah cukup pro actif, menjembatani masalah ini, tadinya kita bertemu kelompok Alex cs lalu salurkan aspirasi mereka kepada Raja Ohoitahit dan kelompknya, untuk akomodir alex cs, tapi Raja menolak “ tandas Wawali.
Rahayaan, optimis, sekembalinya Walikota untuk menyelesaikan masalah ini, tapi kalau tidak mencapai titik temu, maka solusi akhir adalah kedua kelompok masyarakat itu menyelesaikan lewat jalur hukum perdata. “ saya lihat kelompok alex cs ingin agar investor hadir disana, namun karena tersinggung soal surat pelepasan hak tanah itu, mereka diletakan sebagai saksi. Kalau tutur sejarah kedua kelompok itu kita pertemukan saya tidak mau, sebab pasti terjadi ketegangan, karena saling menyudutkan “ sesalnya.
Menyoal tentang harga tanah yang dijual, Wawali mengatakan informasi yang diterima bervariasi . “ ada yang bilang 300 – 400 juta, jadi informasinya bervariasi, tapi saya kira soal harga bukan kewenangan kami, itu wewenang pemilik petuanan, kami hanya sebatas fasilitasi “ tutur Wakil Walikota Tual.
Dirinya berharap, agar kedua kelompok masayarakat itu dapat menahan diri, jangan sampai ada provokasi yang timbul, sehingga menimbulkan hal – hal yang tidak diinginkan bersama. (nery rahabav, koran vox populi )
Tanpa Dipanggil, Ratuanak Datangi Penyidik Kejati Minta Diperiksa

Rabu, 03 Maret 2010
Pers diminta Jangan Besarkan Konflik Antar Kampung
Langgur, VP – Wakil Bupati Malra, Drs Yunus Serang minta Pers, khususnya media cetak elektronik yang ada di daerah ini, agar jangan memberitakan atau membesar – besarkan konflik antar kampung atau kelompok masyarakat yang terjadi belakangan ini, seperti dipubliksikan stasiun tv nasional, sebab itu sangat merugikan masyarakat dan pemerintah daerah.
Permintan itu disampaikan Wabup, usai menyampaikan sambutan pada peringatan hari pers nasional ke 64 dan pengukuhan aliansi jurnalis malra dan Kota Tual ( Ajimat ) berlangsung di Restoran Pelangi, Dusun Mangon, sabtu kemarin ( 27/2 ). “ saya minta teman – teman wartawan, khususnya media elektronik jangan lagi beritakan dan besarkan persoalan konflik antar kampung di masyarakat, karena itu sangat merugikan masyarakat dan pemda “ pintah Wabup.
Serang mengaku, selain pemberitan itu merugikan masyarakat, dengan sendirinya juga berdampak sosial bagi para investor yang ingin datang berinvestasi di kabupaten malra dan kota tual. “ kalau ini terus berlangsung, maka investor takut datang ke daerah berinvestasi “ katanya. ( dok. koran vox populi )
Langganan:
Postingan (Atom)