Selasa, 09 Februari 2010

Refleksi Hari Pers Nasional 9 Pebruari 2010 Pers Malra dan Kota Tual Antara Hidup Segan, Mati Tak Sudi

Nery Rahabav, Pemimpin Redaksi Koran Vox Populi Kabupaten Maluku Tenggara Refleksi Hari Pers Nasional 9 Pebruari 2010 Pers Malra dan Kota Tual Antara Hidup Segan, Mati Tak Sudi Oleh : Nery Rahabav Setiap tanggal 9 pebruari, insan Pers di Indonesia memperingati hari bersejarah tersebut dengan berbagai rangkaian kegiatan, namun bagi para jurnalis di kabupaten Malra dan Kota Tual, semenjak saya berkipra di daerah ini sampai sekarang, tak nampak adanya kegiatan yang dilaksanakan oleh para insan pers, lembaga yang peduli pers atau institusi lainya maupun masyarakat dalam menyambut hari kelahiran Pers tersebut. Jangankan buat kegiatan atau acara serimoni, ucapan selamat kepada para insan pers yang bekerja dan berkarya di kedua daerah ini tak pernah ada. Tidak diketahui apa yang menyelimuti wajah pers di daerah ini, sehingga hari kelahiranya itu selalu terlewatkan dan terabaikan begitu saja. Melalui peringatan hari Pers Nasional, 9 pebruari 2010, saya mengajak kita semua baik elemen masyarakat dan Pemerintah di kedua daerah ini, untuk mari kita refleksikan kembali semuanya itu sebagai bentuk bahan permenungan bersama. Semenjak saya bergelut di dunia jurnalistik, sejak tahun 1999 – sampai saat ini, sesuai pengamatan lapangan, Pers di daerah ini belum dianggap pemerintah sebagai mitra yang sejajar untuk bersama – sama mencapai tujuan bersama yakni kesejatraan rakyat. Pers masih dianggap sebelah mata, tidak bermoral dan beretika, tukang kritik, sering kebablasan serta tidak professional dalam menghasilkan karya – karya jurnalistik sesuai tugas dan fungsi pers serta kode etik jurnalastik. Bahkan lebih kronis lagi di mata masyarakat, pers dituding sebagai lahan mencari duit, atau lebih dikenal dengan istilah trend delapan enam ( 86 ), artinya ketika memperoleh informasi tentang satu kasus yang harus dipublikasikan kepada masyarakat, namun informasi tersebut ditutup rapat atau diselesaikan dibelakang meja. Sementara pertumbuhan pers atau media cetak lokal yang saat ini tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, ibarat hidup segan mati tak sudi, karena masih lemah, kurang modal, pengelolaan manajemen dan penggarapanya tidak bonafid, sehingga dinilai masih takuk mengupas dan menyuguhkan pemberitaan sesuai fakta secara blak – blakan. Saya bisa mengutip pernyataan Wapres Adam Malik, dimana suatu ketika berucap, bahwa sebagian besar pers di daerah keberadaanya lemah alias kurang gisi. Bahkan Jaksa Agung pernah menghimbau, agar para wartawan tidak melakukan ‘ korupsi berita ‘ : apa saja yang benar – benar ada silahkan, walaupun mesti menanggung resiko. Tugas, karya, jasa dan tanggungjawab pers sudah dipahami, namun saya mengamati Sembilan puluh Sembilan persen pers di Kabupaten malra dan Kota Tual tergolong lemah alis kurang gisi, seperti yang disampaikan Wapres Adam Malik. Musabab kurang gisi itu bisa dilihat dari kurangnya modal, manajemen yang tidak beres, penggarapan tak bonafid. Pers yang sehat tidak bakal terwujud selama persyaratan mutlak tersebut belum dipenuhi, walaupun demikian tidak bisa kita pungkiri, semangat dan daya juang pers di daerah ini untuk tetap hidup tidak luntur – luntur. Tiga pilar utama yakni pemerintah daerah, masyarakat dan pers di Malra dan Kota Tual sudah saatnya duduk bersama, menyatukan perspsi untuk mencapai tujuan bersama yakni menuju kesejatraan. Dalam penyelenggaraan komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat, pers merupakan media efektif. Sampai dimana hasil yang efektif tersebut, sangat tergantung dari pengertian kedua pemimpin di daerah ini. Sampai saat ini tercatat, sedikitnya lima belas media cetak dan elektronik lokal yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Malra dan Kota Tual. Kurang gisi yang dirasakan media cetak lokal tersebut, cukup terasa pahit dan memprihatinkan untuk menjadi bahan permenungan bersama. Semenjak kepemimpinan Bupati Malra, Herman Adrian Koedoeboen, SH, Pers di Malra dinilai sebagai tukang kritik pemerintah, sehingga pertumbuhan pers berjalan ditempat. Tercatat dalam lembaran sejarah, Pemerintah Kabupaten Malra, di massa Bupati Koedoeboen, kriminalisasi terhadap pers terjadi, ketika Bupati Malra itu terusik dengan pemberitaan Radio Siaran Swasta Gelora Tavlul, sehingga lewat Kepala Bagian Hukum, Bupati Koedoeboen mengeluarkan surat penutupan Radio Gelora Tavlul. Sementara catatan lainya, para insan Pers di kabupaten Malra, berhasil menggiring Sekretaris Daerah ( Sekda ) Malra waktu itu, Drs. Nurdin Rahawarin menduduki kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Tual, karena melakukan tindakan penghinaan terhadap institusi Pers. Rahawarin dimejahijaukan, karena mengeluarkan kata – kata penghinaan dengan menyebut “ wartawan kambing “. Pengadilan Negeri Tual saat itu memutuskan sekda malra, terbukti melakukan tindakan tidak menyenangkan, sehingga dijatuhi hukuman percobaan tiga bulan kurungan. Sekarang, dengan adanya pemekaran Kota Tual, menjadi daerah otonom, sudah terbagi dua wilayah yakni kabupaten malra dan kota Tual. Dua pemimpin yang mengemban visi perubahan yakni Bupati Malra, Ir, Anderias Rentanubun dan Walikota Tual, Drs. Hi. M.M Tamher, dalam setiap kesempatan sebelum terpilih menjadi orang nomor satu di kedua wilayah itu, bertekad akan merubah paradigma yang ditinggalkan kepemimpinan terdahulu, namun selama setahun kepemimpinan mereka, sesuai hasil evaluasi dan pengamatan pers di kedua wilayah ini visi perubahan itu belum sepenuhnya terealisasi. Tidak diketahui, apa yang melatarbelakangi pemikiran kedua pemimpin yang merakyat itu, sehingga pertumbuhan pers yang begitu pesat di kedua daerah ini belum diposisikan sebagai mitra yang sejajar. Ini menjadi satu tanda tanya besar, apakah kehadiran pers menjadi beban atau momok bagi kepemimpinan mereka ? ataukah pers hanya dijadikan sebagai komoditas politik sesaat ?. Bravo hari Pers, semoga tetap jaya …….( penulis adalah Wartawan, Pemimpin Redaksi Koran Vox Populi di Kabupaten Malra)

Persemalra Lolos ke Senayan, Rahel Tuasalomony Jadi Bintang Tombak Merah

Skuad Persemalra yang dijuluki Pasukan Tombak Merah dari Timur ( dok. Koran vox populi ) Yogjakarta,VP – Laga lanjutan kompetisi Liga PSSI Grup N antara keseblasan Persemalra Langgur, Kabupaten Malra melawan Persikukar Kutai Barat, di stadion Mandala Krida Yogjakarta, selasa sore kemarin ( 9/2 ) berakhir dengan kemenangan Laskar Tombak Merah dari Timur, dengan skor 2 – 1. Atas kemenangan ini, Persemalra berhasil lolos ke Senayan, masuk putaran empat besar Devisi Utama PSSI. Wartawan Vox Populi, Jhon Rahabav yang meliput pertandingan tersebut langsung dari Kota Yogjakarta, melaporkan sejak awal pertandingan, kedua team bermain dalam tempo lambat. Persikukar yang memanfaatkan kelalaian pemain belakang Persemalra, lebih dulu mencetak gol pada menit ke 25, babak pertama lewat tendangan keras pemain Imam Safei. Gol yang dilesehkan para pemain Kutai Barat itu, tidak melumpuhkan semangat dan daya juang pasukan tombak merah untuk terus melakukan penekanan, alhasil, pada menit ke 30, lewat aksi pemain berbakat, Rahel Tuasalamony ( 10 ), berhasil membobol gawang Persikukar, sehingga merubah kedudukan menjadi 1 -1. Gol balasan itu, stadion Mandala Krida Yogjakarta menjadi gegap gempita oleh yel – yel dari ratusan pendukung persemalra. Kedudukan 1 -1 bertahan hingga turun minum . Memasuki babak kedua, Pelatih Persemalra, Adji Lestaluhu menginstruksikan para pemainya untuk menaikan tempo permainan. Amanat Lestaluhu, yang terus membakar semangat anak buanya itu, berhasil dengan gol yang diciptakan pemain Rahel Tuasalamony ( 10 ) pada menit ke 65. Tuasalamony berhasil membobol gawang Persikubar yang dikawal penjaga gawang Yanuar ( 21 ). Skor 2 – 1 untuk kemenangan tombak merah, terus memacu semangat para pemain untuk terus menekan dan menyerang. Namun tidak membuahkan hasil. Kepemimpinan wasit Agus Fausin Arifin yang memimpin pertandingan tersebut, mulai terlihat berpihak kepada keseblasan Persikubar, tapi dewi fortuna belum berpihak kepada anak – anak Kutai Barat, sampai wasit meniup pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, mereka tidak berhasil merubah kedudukan. Dengan kemenangan tersebut, pemain Persemalra, Rahel Tuasalamony dinobatkan sebagai pahlawan bagi lascar tombak merah dari timur. Kepada Vox Populi, Sekretaris team Persemalra, Amon Savsavubun menyampaikan ucapan terimakasi dan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada Pemkab Malra dan DPRD atas dukungan moral serta financial kepada team persemalra. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada masyarakat malra dan kota Tual atas dukunga doa, sehingga Persemalra berhasil lolos empat besar. Usai meluapkan kegembiraan di stadion Mandala Krida, tim Persemalra diarak dengan pawai kemenangan oleh ratusan supporter menuju Hotel Sri Wedari di jalan Solo, yang menjadi tempat tinggal laskar tombak merah. Tahan Imbang Barito Putera 2 -2, Wasit Dinilai Curang, Suporter Ngamuk Sebelumnya pada pertandingan minggu ( 7/2 )antara keseblasan Persemalra Langgur, Kabupaten Malra melawan tim Barito Putera berakhir dengan hasil imbang 2 – 2. Namun pertandingan itu berujung pada kericuhan, pasalnya kepemimpinan wasit Kartiko yang cenderung memihak keseblasan Barito Putera pada pertandingan itu membuat para supporter Persemalra mengamuk. Wartawan Vox Populi, John Rahabav yang berada di Kota Yogjakarta melaporkan, sejak awal pertandingan, pasukan tombak merah menguasai pertandingan, terbukti dengan memanfaatkan tendang sudut di daerah Barito Putera, Yunus Sesa ( 5 ), capten keseblasan Persemalra berhasil menyarangkan bola lewat sundulan kepal, sehingga merobek gawang Barito yang dikawal Zuhairi (20) pada menit ke 15 babak pertama. Gol perdana Persemalra, membuat ratusan pendukungnya bersorak kegirangan, sejak gol pertama itu, wasit Kartiko mulai menunjukan keberpihakanya terhadap tim Barito. Pelanggaran yang semestinya belum masuk kategori pelanggaran keras, ditetapkan sebagai satu keputusan, alhaslnya pemain Barito, Sugeng Wahyudi ( 24 berhasil membobol gawang Persemalra yang dikawal Cathy Ohoilulin, memanfaatkan pelanggaran diluar kotak pinalti. Kedudukan berimbang 1 – 1, tidak bertahan lama karena, Rahel Tuasalamoni ( 10 ), pemain Persemalra berhasil menggetarkan gawang Barito, setelah memanfaatkan umpan tarik dari Aken Narwadan ( 2 ). Kemenangan Persemalra, dengan skor 2 -1 bertahan sampai wasit meniup pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan babak pertama. Memasuki babak kedua, tempo permainan kedua team semakin meningkat, serangan demi serangan belum membuahkan hasil. Memasuki menit – menit terakhir babak kedua, akibat kesalahan yang dibuat Yunus Sesa, akhirnya wasit Kartiko menghadiakan tendangan pinalti kepada Barito. Gatot Ismawan ( 12 ), sebagai exsekutor berhasil menggelabui penjaga gawan Persemalra, Cathy Ohoilulin, sehingga kedudukan berubahmenjadi 2 – 2. Hasil imbang tersebut berakhir sampai selesai pertandingan. Para pendukung Persemalra yang sebagian besar para mahasiswa dari awal tidak menerima perlakuan wasit terhadap team kesayanganya, mulai mengamuk dengan merusak pagar pembatas di tribun tertutup dan tenda yang disiapkan panitia. Para supporter Persemalra yang sudah naik pitam, berteriak dan melempari wasit dengan botol air mineral, berkat kesigapan aparat kepolisian, suasana rusuh tersebut dapat diatasi. (team vox populi)

Minggu, 07 Februari 2010

Polda Maluku Buru Mantan Direktur PT MJT, Tersangkan Pemilik Senjata Api Ilegal

Mantan Direktur PT. Maritim Timur Jaya ( MTJ ), David Djioe Ketika berpose bersama Kapolda Maluku beberapah waktu lalu. ( dok. Koran Vox Populi ) AMBON, VP - Kepolisian Daerah (Polda) Maluku terus memburu mantan Direktur PT Maritim Timur Jaya (MTJ) David Djoe. Pengusaha itu kabur setelah ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api secara ilegal. Tanpa dokumem resmi, David memiliki dua senjata api laras pendek. Salah satunya, jenis SPS Gestom produk Spanyol. Yang lain adalah jenis STI Standard 200 G20011 warna hitam produksi USA. Kini, dua senjata api tersebut disimpan polda sebagai barang bukti. Dua senjata api tersebut disita saat akan dibawa ke Jakarta oleh Yanto Moge, anak buah David. Berdasar pengakuan Yanto, polisi juga memanggil David untuk diperiksa. Sampai kemarin (5/2) yang bersangkutan tidak juga memenuhi panggilan tersebut. Polisi bahkan sudah menghubungi anaknya, Viktor Djoe, dan menantunya, Ronald. Sebagaimana David, keduanya juga tidak muncul. ''Kabar yang beredar, dia sedang berada di Tiongkok,'' papar Ditreskrim Polda Maluku Kombes Pol Drs Jhony Siahaan yang didampingi Humas AKBP Johanes Huwae dan Kasatreskrim Polres Ambon AKP Andreas Wijaya. Selain menyelidiki kepemilikan senjata api itu, polisi menyelidiki sejumlah kasus yang terjadi di PT MTJ, setelah David dipecat. Di antaranya, pengancaman oleh David terhadap Direktur Utama PT MTJ Roni Bratawijaya. Ancaman itu, menurut Jhony, dilakukan lewat pesan singkat telepon genggam (SMS). Isinya, ancaman menghancurkan perusahaan tersebut, jika rekeningnya yang diblokade tidak juga dibuka. Tersangka juga terlibat dalam penggelapan mobil perusahaan pada November 2009. Mobil itulah yang akan dibawa ke Jakarta, namun keburu disita polisi dan ditemukan dua senjata api tersebut di dalamnya. Karena berbagai tindakan kejahatannya itulah, David menjadi buronan Polda Maluku. Berbagai cara sudah dilakukan, namun sampai kemarin, yang bersangkutan belum diketahui rimbanya. (FAS/jpnn/ruk)

Pemuda Ohoitel Kota Tual Terlibat Bentrok, Satu Luka - Luka

Tual Vox Populi,- Buntut bentrok antar dua kelompok pemuda satu Desa yakni Desa Ohoitel dan Dusun Watraan, rabu (3/2), mengakibatkan satu warga kampung Ohoitel, Ilias Atbar (16 ), mengalami luka – luka, diduga bacokan alat tajam. Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari warga masyarakat setempat, pemuda dua kampung terlibat adu fisik, bermula dari acara pesta yang dilaksanakan di Dusun Watraan. Belum diketahui, siapa yang memulai insiden itu, namun sesuai keterangan warga masyarakat, kalau korban Ilias Atbar pada malam kejadian tersebut, menjadi tumbal, sebab yang bersangkutan ketika melintas, diduga beberapa oknum pemuda Dusun Watraan, mencegat korban lalu menganiaya korban sampai bermandikan darah. Korban Atbar pada kamis pagi 4/2-2010 ditemukan warga tergeletak ditepi pantai antara dua kampung dalam kondisi tubuh dipenuhi dengan luka akibat bacokan alat tajam. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum ( RSU ) Karel Sadsuitubun Langgur untuk mendapat pertolongan medis. Berdasarkan hasil yang idintefikasi petugas medis setempat, korban diduga kuat dianiya dengan alat tajam, seperti parang dan pisau, karena terlihat pada belakang leher, tulang belakang, paha dan tumit, luka yang diderita begitu besar. Ratusan Pemuda Ohoitel Serang Watraan Atas insiden ini, Ratusan Pemuda kampung Ohoitel tidak menerima baik, sehingga pada kamis ( 4/2 ), mereka secara beramai – ramai mendatangi warga kampung Watran kecamatan Dullah Utara/kota Tual untuk menuntut pertanggungjawaban oknum pemuda di kampung itu. “ kami bersedia mundur, dan tidak anarkis, jika oknum pemuda yang aniaya Atbar harus digiring ke Mapolres untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya “ teriak para Pemuda Kampung Ohoitel. Mendapat laporan warga, Pihak Kepolisian Polres Malra mengambil tindakan cepat, dengan menurunkan dua regu keamanan dari Brimob untuk menghalau aksi ratusan pemuda Ohoitel, yang hendak melakukan penyerangan ke Dusun Watraan. Dalam aksi itu, empat orang pemuda kampung harus digiring ke Mapolres Maluku Tenggara untuk dimintai keterangan. Kapolres Malra, AKBP Saiful Rahman S.Ik, ketika dikonfirmasi kamis, membenarkan insiden antar kedua pemuda kampung itu. Kata Kapolres, kejadian itu bermula dari pesta syukuran yang dilaksanakan didusun Watraan rabu malam (3/2). “ benar, pemuda Ohoitel – Watraan terlibat bentrok “ tandasnya. Menurut Kapolres, acara pesta yang digelar di Dusun Watraan, pada malam itu, menyebabkan tindakan penganiayaan yang dilakukan sejumlah pemuda kampung Watraan terhadap salah satu pemuda Ohoitel atas nama Elyas Atbar. “ Korban ditemukan warga di Pantai Desa Ohoitel dalam keadaan kritis akibat luka bacok dibagian Kepala, belakang, paha dan tumit, lalu selenjutnya dilarikan kesalah satu rumah warga desa Ohoitel untuk dibawah ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun Langgur “ ujarnya. Kapolres, Saiful Rahman mengaku, sebelum korban ke rumah sakit, dengan terhentak-hentak dan dalam kondisi berlumuran darah korban menjerit mengaku kalau yang melakukan penganiayaan terhadap dirinya, adalah sejumlah pemuda dari dusun Watraan.” Melihat kondisi tubuh korban yang diselumuti darah akibat luka bacok , akhirnya warga Desa Ohoitel naik pitam dan nyaris menyerang Watraan “ ungkapnya. Amukan warga berhasil dihentikan akibat kerja keras Polres Malra dan Satuan Anggota Bigade Mobil (Brimob) yang turun lapangan mengamankan situasi. Ditegaskan, Kondisi terakhir dua Kampung saat ini, sudah membaik. “ saya harap kondisi kondusif ini, mari kita jaga bersama dalam nuansa kekeluargaan, jangan kita buka ruang bagi bagi pihak ketiga atau penumpang gelap yang hendak menumpang dan atau memanfaatkan situasi untuk memprofokasi keadaan “ harap Kapolres. Kapolres juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Watraan bersama para tokoh Agama Tokoh Masyarakat yang telah bekerja sama untuk menyerahkan para pelaku. Dikatakan, Para Pelaku saat ini sedang dalam penyelidikan di Polres Malra dan jika dalam pemeriksaan nanti tidak terbukti adanya tindakan penganiayaan maka mereka akan di pulangkan.(anox, nery rahabav. Koran Vox Populi)

Persemalra Bermain Imbang 0 -0 Lawan Serui

Kesebelasan Persemalra Langgur, yang dikenal dengan julukan Laskar Tombak Merah Dari Timur ( dok. koran vox populi ) Jogjakarta, VP – Mengawali debut perdananya di putaran delapan delapan besar Kompetisi PSSI Divisi I Liga Indonesia pada group N di Stadion Mandala KridaYogjakarta, antara pasukan Tombak Merah dari Timur ( Persemalra ) melawan tim tangguh dari Papua, the blac oranye ( Perseru Serui ), jumat malam ( 5/2 ) berakhir dengan hasil imbang 0 -0. Wartawan Vox Populi, Jhon Rahabav yang melaporkan langsung dari Kota pelajar itu, menyebutkan, sejak awal pertandingan, kedua team asal wilayah timur itu gencar memainkan bola dari kaki ke kaki, dengan pola saling menyerang. Namun serangan yang datang bertubi –tubi dari kedua team tidak membuahkan hasil. Permainan keras yang diguyur hujan sejak pertandingan dimulai, tak menyusut semangat kedua team untuk terus mempermainkan pola permainan bola yang cantik dan saling serang. Sejak Kik off babak pertama dimulai, dan wasit sutikno yang memimpin pertandingan meniup pluit panjang, tanda berakhirnya pertandingan babak pertama, kedua team belum membuahkan gol. Sementara itu penjagan gawang Persemalra, Cathy Ohoiulun ( 1 ), menjadi pahlawan tombak merah, karena berhasil mematahkan serangan anak – anak serui yang datang dari sisi kiri dan kanan. Memasuki pertandingan babak kedua, tempo permainan dari kedua keseblasan semakin meningkat, namun tidak membuahkan gol, sehingga sampai babak kedua selesai, hasil imbang tetap 0 – 0. Usai pertandngan Pelatih Persemalra, Adji Lestaluhu, mengaku anak – anak asuhanya sudah bermain bagus, namun dewi fortuna belum berpihak kepada lascar Tombak Merah dari Timur. Lestaluhu juga memohon doa restu dan dukungan masyarakat Malra dan Kota Tual, agar pada pertandingan kedua pada hari minggu ( 7/1 ), antara Persemalra melawan Keseblasan Barito Putera, teamya dapat memperoleh kemenangan. ( jhon Rahabav. Koran Vox Populi )

Kontraktor Pinjam Pakai Perusahan Diblaclist

Bupati Malra, Ir. Anderias Rentanubun. ( dok. koran vox populi ) Langgur, VP – Bupati Malra, Ir. Anderias Rentanubun menegaskan , mulai tahun 2010, pihaknya akan melaksanakan penertiban para rekanan pengusaha ( kontraktor ) yang ada di daerah ini. Kata Rentanubun, operasi penertiban itu akan dipimpin langsung Wakil Bupati Malra, Drs. Yunus Serang. “ kita segera tertibkan para rekanan, minimal punya kantor, papan nama, pekerjakan tenaga kerja, dan taat pajak “ katanya. Menyoal tentang membanjirnya para rekanan pengusaha di daerah ini, Rentanubun yang juga mantan Kadis Kimpraswil malra itu, mengaku operasi penertiban itu dilaksanakan agar semuanya harus kembali pada koridor. “ kita tertibkan, sehingga rekanan pengusaha yang jelas keberadaanya, mendapat rekomendasi dari team penertiban yang berhak ikut proses lelang proyek tahun 2010. Kalau kita temukan masih ada yang pinjam pakai perusahan, maka langsung dikenakan sangsi atau diblaclist “ tegas Rentanubun. Ditegaskan, operasi penertiban itu dilaksanakan, agar semua pihak dapat melaksanakan hak dan kewajibanya sesuai aturan main sebab ketatnya pengawasan dari berbagai elemen, mengharuskan semua pihak yang terlibat dalam dunia usaha harus bekerja profesional, taat asas, dan aturan. “ hal ini kita lakukan, untuk meminimalisir tindakan atau perbuatan merugikan keuangan Negara seperti yang terjadi selama ini “ tandas Bupati Malra. ( nery rahabav. Koran Vox Populi )

Jumat, 05 Februari 2010

DPR RI Buka Ruang Pemekaran, Propinsi Maluku Tenggara Raya Harga Mati

Gbernur Maluku, Karel Albert Ralahalu dan Bupati Malra, Ir, Andrias Rentanubun, saat penyerahan aset Kantor Bupati Malra kepada Pemkot Tual Langgur, VP – Walaupun Pemerintah RI dibawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhyono dan Wakil Presiden, Budiono sudah mengeluarkan kebijakan moratorium daerah pemekaran baru di Indonesia, namun DPR - RI dalam rapat paripurna, telah memutuskan dan menyepakati untuk membuka ruang kepada seluruh daerah untuk memekarkan diri. Hal ini ditegaskan Anggota DPR – RI, Daerah pemilihan Maluku, asal kabupaten Maluku Tenggara, Edison Betaubun, SH.MH kepada Vox Populi, usai bertatap muka dengan para pimpinan SKPD di lingkup Pemkab Malra minggu kemarin. “ sampai lima tahun DPR – RI masih buka ruang bagi daerah yang mau memekarkan diri “ tandasnya. Ketika ditanya tentang wacana pemekaran propinsi Maluku Tenggara Raya yang saat ini lagi mengemuka, Betaubun mengemukakan peluang itu tetap terbuka lebar, persoalanya dikembalikan kepada pimpinan daeran dan legislatife pada empat kabupaten dan satu kota. “ mereka harus punya satu tekad, untuk berjuang bersama menuju propinsi Maluku tenggara raya “ kata Edison Betaubun. Dia mengaku pemekaran propinsi Maluku Tenggara Raya adalah satu kebutuhan yang tidak bisa ditawar. “sebuah kerugian besar, jika rakyat malra tidak memperjuangkan propinsi Maluku tenggara raya, sebab dimana – mana, semua orang berjuang pemekaran, makin kecil wilayah, rentang kendali muda, sehingga akan membantu berbagai kebijakan mensejatrakan rakyat “ ujarnya. Betaubun menyatakan dirinya yakin masyarakat malra menghendaki pemekaran dan sudah siap. “ kenapa saya bilang begitu, karena waktu dicalonkan sebagai anggota DPR – RI, dalam seluruh spanduk dan stiker yang disebarkan di empat kabupaten dan satu kota itu, disitu tertulis jelas, mari berjuang bersama saya, menuju propinsi Maluku tenggara raya, kenyataanya dengan issu itu, saya menang pada seluruh daerah tingkat II di malra, ini berarti rakyat menghendaki pemekaran, tinggal sekarang elit politik membantu untuk mendorong perjuangan itu “ ungkap Edison Betaubun. Anggota DPR – RI asal partai Golkar itu mengaku akan tetap mengawal perjuangan pemekaran propinsi Maluku tenggara raya. “ itu komitmen saya untuk memperjuangkan pemekaran propinsi Maluku tenggara raya “ tegasnya. ( nery rahabav, vox populi )